Sejarah Desa Cening


Sejarah Desa Cening berasal dari kedatangan orang-orang yang berasal dari Kerajaan Pajajaran. Pada suatu hari Ki Ageng Wiro Nolo Petir seeding membajak sawah, hal tersebut dilihat oleh Ki Ageng Wiro Nolo Yudho ( Ki Tanjung ) yang heran dan terkagum-kagum karena yang digunakan untuk menarik bajak bukanlah kerbau atau sapi pada umumnya, akan atetapi Ki ageng Wiro Nolo petir menggunakan hewan banteng dan menjangan. Semua orang tahu bahwa kedua binatang tersebut adalah binatang liar, akan tetapi yang membuat kagum orang adalah kedua binatang tadi jinak saat digunakan membajak sawah oleh Ki Ageng Wiro Nolo Petir. Ki Ageng Wiro Nolo Yudho berkata kepada Ki Ageng Wiro Nolo Petir “ Mengapa membajak sawah menggunakan banteng dan menjangan? Kalau sebenarnya kedua hewan tersebut dapat disembelih dan dimanfaatkan untuk banyak orang . Rupanya pembicaraan kedua orang tersebut di dengan oleh kedua hewan lalu kedua binatang tersebut jadi ketakutan akhirnya lari kencang meninggalkan sawahnya.
Hal tadi ternyata membuat Ki Ageng Wiro Nolo Petir dan Ki Ageng Wiro Nolo Yudho akhirnya pergi sampai tidak pulang ke rumah. Di situ tempat akhirnya Ki Ageng Wiro Nolo Yudho membuat sebuah gubug untuk peristirahatannya yang tidak di ketahui oleh Ki Ageng Wiro Nolo Petir. Dalam kesehariannya Ki Ageng Wiro Nolo Yudho makan dengan menggunakan tempat makan dengan sebuah Ceneng (menyerupai piring yang besar yang terbuat dari perunggu).
Pada waktu itu Ki Ageng Wiro Nolo Yudho mempunyai ide dan gagasan ingin membangun sebuah desa di tempat di mana beliau membuat sebuah gubug tersebut. Ki Ageng Wiro Nolo Yudho memilih tempat tersebut karena di tempat itu terdapat sebuah sumber mata air yang jernih (bening)

Selanjutnya Ki Ageng wiro Nolo Yudho berkata bahwa apabila nantinya daerah tersebut ramai dan banyak penduduknya, maka daerah tersebut di beri nama Desa Cening, yang merupakan gabungan dari tempat makam Ki ageng Wiro Nolo Yudho ( Ceneng ) dan sumber mata air yang bening ( jernih ).
Desa Cening mempunyai makna sebagai berikut :
1. “Cening” adalah tempat makan yang besar dengan makna kiasan daerah ini dapat dipergunakan sebagai tempat untuk mengumpulkan orang-orang yang ingin bernukim.
2. “Bening” adalah keadaan yang suci dan bersih dengan makna kiasan diharapkan agar orang-orang yang bermukim di siru senantiasa memiliki hati dan jiwa yang suci serta bersih akan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT, terutama para pemimpin desa cening bila tidak sesuai dengan apa yang disampaikan di oleh Mbah Ki Ageng wiro Nolo Yudho tersebut maka, tidak akan kuat memimpin maysarakat Desa Cening.
Bekas daerah tadi sekarang sekarang sudah tidak menjadi dusun/desa lagi karena semua penduduk berpindah tempat, kemudian lokasi tersebut sekarang menjadi lahan pertanian warga Desa Cening yang terletak di sebelah utara barat bengkok carik.
Dalam hal sejarah pemerintahan dari pemerintahan desa sampai dnegan pemerintahan desa sekarang, Pemerintahan Desa Cening berkali-kali telah terjadi pergantian pimpinan Kepala Desa yang antara lain sebagai berikut :
1. Djaja Soemarno Tahun 1945 s/d 1947
2. Ngahadi Tahun 1947 s/d 1952
3. Merto Didjojo Tahun 1952 s/d 1985
4. Giman soemardjo Tahun 1986 s/d 1989
5. Darto Tahun 1989 s/d 1998
6. Margono Tahun 1998 s.d 2007
7. S a y u t i Tahun 2007 s/d 2013
8. Sayuti Tahun 2013 s/d Sekarang

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan